NTB Bangkit! Video: Bagaimana tanggapan teman-teman bule saya?
Nama saya Siti Fathimah, berasal dari
Praya, Lombok Tengah. Saya baru lulus dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis jurusan
Ilmu Ekonomi Studi Pembangunan (IESP), Universitas Mataram pada tanggal 28 Juli
2018. Saya memiliki keluarga yang sederhana dan harmonis. Orang tua saya sangat
mendukung apa yang saya kerjakan selama hal tersebut positif.
Saya memiliki berbagai pengalaman
tersendiri tentang potensi maupun permasalahan yang ada di Nusa Tenggara Barat
(NTB). Alhamdulillaah, saya telah mengunjungi beberapa daerah yang ada di
Indonesia, khususnya di provinsi tercinta ini. Karena pengalaman paling
mendominasi adalah bekerja di bidang pariwisata, NTB sangatlah berpotensi dan
patut diketahui warga dunia.
Pantai Kuta, Lombok.
Nb* yang mau tau arti percakapan kami, komen di bawah ya! :)
Keindahan alam sebagai minat wisatawan
bukan hanya di Pulau Lombok, tetapi juga d Pulau Sumbawa. Saya pernah
berkunjung ke Pulau Sumbawa bersama rekan-rekan BEM Fakultas Ekonomi dan Bisnis
Universitas Mataram dalam kegiatan sosial. Kami berkunjung ke sekolah-sekolah
dan menikmati keindahan alam Pulau Kenawa. Ketika kami sampai di Pulau Kenawa
tahun 2016, wisatawan belum terlalu banyak. Jangankan wisatawan mancanegara,
wisatawan domestik saja sangat sedikit. Bahkan, hanya kami yang memenuhi pulau
tersebut. Jika warga dunia mengetahui pulau ini, tidak akan sedikit mereka akan
berkunjung.
Ketika saya mengikuti kegiatan Tour de
Indonesia, Nusa Tenggara Barat semakin dikenal oleh daerah lain. Hal ini tidak
lepas dari jasa gubernur periode sebelumnya, yaitu Bapak Zainul Majdi alias
Tuan Guru Bajang. Saya merasakan perkembangan NTB yang signifikan saat periode
beliau. Beliau merupakan salah satu tokoh penting yang membuat saya mengikuti
beberapa kegiatan internasional. Tidak heran banyak yang mengidolakan beliau,
termasuk saya.
Untuk itu, NTB tetap gencar mempromosikan
pariwisata. Namun, musibah besar menghampiri. Gempa terus terjadi sehari
setelah saya diwisuda sampai bulan September. Kemarin, saya berkunjung kembali
ke daerah Lombok Tengah bagian selatan, yaitu Pantai Kuta. Tidak seperti
biasanya, Kuta semakin sepi, layaknya pantai tak berpenghuni. Tepi pantai
dipenuhi dengan tenda-tenda masyarakat yang mengungsi untuk menghidari
bangunan.
Hingga sekarang, saya menghubungi teman
saya yang bekerja di Kuta maupun teman saya yang hanya sekedar berkunjung. Jawaban
tetap sama, para wisatawan, khususnya wisatawan asing mulai jarang berkunjung
ke sana. Saya sempat bertanya ke para pelaku wisata di sana dengan memiliki
kesimpulan yang sama, wisatawan akan datang tergantung dari situasi dan kondisi
Lombok maupun Sumbawa. Hal tersebut juga masih saya perhatikan, bagaimana cara
mengajak para wisatawan dan menjamin mereka bahwa NTB sudah kondusif seperti
sedia kala?
Bila dibandingkan dengan daerah-daerah
lainnya di Indonesia, NTB masih muda dan membutuhkan perhatian yang lebih. Tidak
cukup bila semua permasalahan ditanggung oleh pemerintah. Sebagai generasi
muda, saya harus menerapkan apa yang saya dapatkan berdasarkan pengalaman dari
kampus maupun luar kampus.
Saya senang berkomunikasi dengan wisatawan,
terutama wisatawan asing untuk memahami wawasan dan bahasa. Boleh dikatakan
bahwa saya adalah seorang tour-guide. Pada zaman globalisasi yang membutuhkan
bantuan teknologi di segala aspek, semua orang termasuk saya aktif menggunakan
media sosial. Melalui media sosial tersebut, sebagai generasi muda, saya gencar
untuk selalu menggunakan sosial media dengan bijak. Terlebih dengan
berkurangnya para wisatawan untuk berkunjung ke NTB, maka promosi yang
dilakukan semakin diperkuat. Hal tersebut jauh lebih baik daripada hanya
sebagai penyebar kebencian dengan membaca informasi dari sumber yang tidak
jelas.
Keren side arik aneh Kedung terjenterj
BalasHapushehehe terimakasih akak :D sekuale nulis. Tertenjer?
BalasHapus